mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini106
mod_vvisit_counterKemarin138
mod_vvisit_counterBulan ini3598
mod_vvisit_counterTotal108741

We have: 4 guests online
IP Anda: 23.22.212.158
 , 
Today: Mei 22, 2013
Abstrak: Vol. 11, No. 2, Oktober 2012

CREATIVITY AND GOD IN WHITEHEAD'S PROCESS PHILOSOPHY

Thomas Hidya Tjaya

Abstract: The category of creativity unquestionably occupies a central position in Alfred North Whitehead’s philosophy of organism. Its employment is hardly surprising given his project to establish a speculative philosophy that is compatible with modern science. This article examines the use of such a category in this project and argues that the separation between creativity and God causes several problems, including the absence of an ontological principle that may ground the interaction of the various elements in this metaphysical scheme. A more fundamental question is also raised concerning the nature of this project, which walks a fine line between philosophy and science.

Abstrak: Kategori kreativitas jelas memperoleh tempat sentral dalam filsafat organisme Alfred North Whitehead. Kehadiran kategori ini tidaklah mengherankan mengingat usahanya untuk membangun sebuah filsafat spekulatif yang selaras dengan sains modern. Artikel ini hendak mengevaluasi penggunaan kategori ini dan menyampaikan argumen bahwa pemisahan antara kreativitas dan Tuhan memuat sejumlah masalah, termasuk ketiadaan sebuah prinsip ontologis yang dapat menyatukan interaksi berbagai unsur dalam skema metafisika ini. Sebuah pertanyaan lebih mendasar juga diajukan terkait dengan hakikat proyek ini sendiri yang memperlihatkan tipisnya batas antara filsafat dan sains.

Klik: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya untuk mengirim email langsung ke penulis.

 

MARTABAT MANUSIA SEBAGAI BASIS ETIS MASYARAKAT MULTIKULTURAL

Otto Gusti Madung

Abstract: Since the issue of the war against global terrorism emerged, the discourse surrounding the concept of human dignity returns as a normative basis for the protection of basic human rights. The term human dignity has existed since the days of ancient Greek philosophy and was
further developed in dialogue with medieval Christian theology and the secular thought of modern times. This article places special emphasis on the understanding of human dignity as defined by a secular thinker and exponent of the Enlightenment, Immanuel Kant. The concept of human dignity as developed by Immanuel Kant is rational and transcends the boundaries of religions, cultures and ideologies; therefore it is suitable as a normative basis for a multicultural society. But the article also does not turn a blind eye to some critical observations offered by adherents of particular ethics concerning the Kantian universal ethics. These critical observations emphasize the ethical principle of substantial solidarity in order to overcome the dangers of anonymity in each model of formal ethics.

Abstrak: Sejak isu perang melawan terorisme global muncul, wacana seputar konsep martabat manusia kembali menjadi aktual sebagai basis normatif dalam melindungi hak-hak dasar manusia. Istilah martabat manusia sudah lahir sejak zaman Yunani kuno dan dalam perjalanan sejarah berdialog dengan pandangan teologi Kristen Abad Pertengahan serta pemikiran sekular abad modern. Tulisan ini mencoba memberikan penekanan khusus pada pemahaman tentang martabat manusia seperti dirumuskan oleh pemikir sekular abad pencerahan yakni Immanuel Kant. Konsep martabat manusia yang dikembangkan oleh Immanuel Kant bersifat rasional dan melampaui sekat-sekat agama, ideologi dan budaya; sehingga dipandang layak untuk dijadikan basis normatif
sebuah masyarakat multikultural. Akan tetapi, penulis juga tidak menutup mata terhadap beberapa catatan kritis yang diberikan oleh beberapa pengikut etika khusus berkaitan dengan etika universal Kant. Catatan-catatan kritis tersebut menekankan aspek solidaritas substansial dalam etika untuk mengatasi bahaya-bahaya anonimitas dalam setiap model etika formal.

Klik: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya untuk mengirim email langsung ke penulis.

 

 

THE DYNAMICS OF HUMAN DESIRE IN BUDDHISM AND CHRISTIANITY

Albertus Bagus Laksana


Abstract: In their struggle against the capitalist colonization of desire, Christianity and Buddhism offer similar strategies of fundamental formation or transformation of human desire. This article examines three specific features in which Christianity and Buddhism share a broad and deep resemblance in their analysis of on the dynamics of human desire and its transformation. First, both traditions identify distorted human desire as a source of bondage (or suffering), which affects the mind (intellectual), the heart (affective) and the body. Second, in terms of the strategy of liberation from this bondage, both agree that human desiring constitutes the most effective internal force available in the human make-up itself. Thus, the liberation process is not aimed at wiping out human desire but rather at channeling the very power of human desiring through a process of education whose dynamics are understood as an ascent or a journey that leads to higher (or deeper) Reality. Third, with regard to the direction of liberation, both traditions assert that this process should be directed not only toward the self but also towards others. Here the benefit for others, the virtue of caritas in Christianity and bodhicitta in Buddhism, constitutes a fundamental part of the direction of this process of formation.

Abstrak: Dalam perlawanan mereka terhadap kolonisasi hasrat oleh kapitalisme, tradisi Budhis dan Kristiani menawarkan cara-cara yang mirip untuk mendidik atau mentransformasi hasrat manusia. Artikel ini membahas tiga unsur penting yang sama dari analisis Budhisme dan Kristianitas mengenai dinamika hasrat manusia dan transformasinya. Pertama, kedua tradisi ini mengidentifikasi hasrat manusia yang rusak atau salah arah sebagai sebab dasariah dari penderitaan manusia. Kerusakan hasrat ini juga mempengaruhi dimensi intelektual, afektif dan juga tubuh manusia. Kedua, perihal cara pembebasan dari penderitaan ini, kedua tradisi ini juga sepakat bahwa hasrat manusia merupakan daya internal paling efektif dalam diri manusia sendiri. Karena itu, proses pembebasan ini tidak dimaksudkan untuk membuang hasrat dari kemanusiaan, melainkan untuk menyalurkan daya hasrat ini melalui proses transformasi yang berdinamika “mendaki,” sebuah perjalanan menuju Realitas yang lebih tinggi atau dalam. Ketiga, mengenai arah pembebasan ini, kedua tradisi menekankan bahwa proses ini ditujukan tidak hanya untuk diri sendiri melainkan juga sesama. Dalam hal ini, kepentingan sesama seperti diungkapkan oleh keutamaan caritas dalam Kristianitas dan bodhicitta dalam Budhisme merupakan bagian dasariah dari arah transformasi hasrat manusia itu sendiri.

Klik: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya untuk mengirim email langsung ke penulis.

 

MENYOAL FAKTA PUSARA KORBAN, MEMBANGUN BUDAYA DAMAI DI HALMAHERA

Sefnat Hontong


Abstract: Among the interesting phenomena in Halmahera’s post-conflict era are the permanently built tombs of victims in the courtyards of houses of worship (churches and mosques). An important question which arises from this phenomenon is: why were the tombs of victims built in the courtyards of the houses of worship? What is the meaning of this reality for promoting reconciliation and peace in Halmahera? According to the writer, an analysis on the way the Halmaherans compre-hend this practice is important. By understanding the way the Halmahera people view and live out the meaning of the tombs of the victims, we can understand and anticipate any further impact of this practice. Through this article, the writer offers a sociological and theological study so that a road to promote peace building in Halmahera can be paved.

Abstrak: Salah satu fenomena menarik dalam masyarakat Halmahera di era pasca konflik adalah adanya pusara korban yang dibangun secara permanen di halaman rumah ibadah (gereja dan masjid). Pertanyaan penting yang perlu dikemukakan melihat fenomena ini adalah: mengapa pusara korban dibangun di halaman rumah ibadah? Apa arti realita itu bagi upaya rekonsiliasi dan pembangunan budaya damai di Halmahera? Menurut penulis, kajian dan analisis terhadap penghayatan dan pemahaman masyarakat Halmahera terhadap realita pusara korban menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Dengan memahami penghayatan dan pemahaman masyarakat Halmahera terhadap realita pusara korban, maka dampak yang ditimbulkan olehnya dapat dipahami, dimengerti, dan diantisipasi. Melalui artikel ini penulis hendak menampilkan sebuah kajian sosiologis-teologis dalam rangka menemukan sebuah “jalan raya” bagi upaya membangun perdamaian yang sejati di era pasca konflik di Halmahera.

Klik: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya untuk mengirim email langsung ke penulis.

 

KERAJAAN ALLAH SEBAGAI INTI KEHIDUPAN DAN PERUTUSAN YESUS

Martin Chen


Abstract: The Kingdom of God is central to the whole message of Jesus Christ. Through the kingdom of God, we can discover and understand the entire mission of Jesus. The Kingdom of God is the embodiment of God’s saving presence in human life. Compared with the Jewish religious movements of that era, especially the apocalyptic movement, which also awaited the coming of the Kingdom of God, Jesus’ preaching about the kingdom of God has a special feature, that the Kingdom of God is an act of forgiveness and salvation from God, and not God’s judgment; moreover, the action is happening now in people’s life, rather than being something that is expected in the future. Through Jesus, through his word and his work, God is now present in the midst of the people. Through his parables and his words in the Sermon on the Mount and in the act of casting out demons, in healing the sick and in the forgiveness of sin, Jesus reveals the presence of a compassionate God, a God who frees people from the power of sin and leades them in the power of divine grace. Jesus not only preached the kingdom of God but gave himself so that people would experience God’s saving work. Through His death on the cross, Jesus freely poured God’s mercy and goodness upon human beings. Jesus’ proclamation of the kingdom of God has important implications for the understanding of the Christological and ecclesiological renewal.

Abstrak: Kerajaan Allah merupakan inti seluruh pewartaan Yesus Kristus. Melalui Kerajaan Allah kita dapat menemukan dan mengerti seluruh perutusan hidup Yesus. Kerajaan Allah berarti perwujudan kehadiran Allah yang menyelamatkan dalam hidup manusia. Dibandingkan dengan gerakan keagamaan yahudi pada zaman itu, khususnya apokaliptik yang juga menantikan kedatangan Kerajaan Allah, pewartaan Yesus tentang Kerajaan Allah memiliki ciri khusus bahwa Kerajaan Allah adalah tindakan pengampunan dan penye-lamatan Allah, bukan penghakiman Allah  dan tindakan itu kini terjadi nyata dalam hidup manusia, dan bukannya sesuatu yang dinantikan di masa depan. Melalui diri Yesus, dalam sabda dan karya-Nya, Allah kini hadir di tengah-tengah umat-Nya. Lewat perumpamaan dan sabda bahagia maupun dalam tindakan pengusiran setan, penyembuhan orang sakit dan pengampunan orang berdosa, Yesus menyatakan kehadiran Allah yang penuh belas kasih dalam hidup manusia, yang mem-bebaskannya dari kuasa dosa dan menuntunnya dalam kuasa rahmat Ilahi. Yesus tidak hanya memberitakan Kerajaan Allah tetapi juga memberikan diri-Nya, sehingga orang sungguh mengalami karya penyelamatan Allah. Melalui kematian-Nya di salib, Yesus mencurahkan dengan cuma-cuma kerahiman dan kebaikan Allah dalam hidup manusia. Pewartaan Kerajaan Allah Yesus ini memiliki dampak penting bagi pembaruan pemahaman kristologis dan eklesiologis.

Klik: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya untuk mengirim email langsung ke penulis.

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>
_