mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini164
mod_vvisit_counterKemarin122
mod_vvisit_counterBulan ini2273
mod_vvisit_counterTotal112114

We have: 2 guests, 2 bots online
IP Anda: 107.22.25.119
 , 
Today: Jun 19, 2013
Abstrak: Vol. 10, No. 2, Oktober 2011 Cetak


PERBANDINGAN AJARAN SHANKARA
DAN RAMANUJA MENGENAI MANUSIA
DAN PEMBEBASANNYA

A. Sudiarja*

Abstract: Shankara and Ramanuja were two leading figures of the Indian Philosophy in the Middle Ages. They were the founders of two important schools in orthodox Indian Philosophy (Darshana), the Advaita and Vishish>advaita Vedanta respectively. Even though both of them claimed to follow faithfully the Vedanta tradition, it is clear that their doctrines are quite different with regard to God, man, and salvation. Shankara believed that reality is one without a second (monism), whereas Ramanuja main-tained that souls must be qualitatively distinguished from God, even though they cannot be separated from Him, or better said, they are held in the one reality of God (panentheism). Both systems imply naturally different doctrines with regard to salvation or human liberation.

Abstrak: Shankara dan Ramanuja merupakan dua tokoh besar dalam filsafat India pada Abad Pertengahan. Keduanya memimpin mashab besar dalam aliran filsafat Hindu ortodoks (Darshana) tetapi berbeda ajarannya. Sementara Shankara mengajarkan realitas sebagai “Yang Satu” tidak ada duanya (monisme) dan mendirikan mashab Advaita Vedanta, Ramanuja mengajarkan adanya perbedaan kualitas antara jiwa dan Tuhan, kendati harus diakui bahwa jiwa tetap ada dalam rengkuhan Tuhan (panenteisme); Ramanuja mendirikan mashab Vishish>advaita Vedanta. Kedua sistem ajaran ini mempunyai implikasi berbeda dalam visi mereka tentang manusia dan pembebasannya.

Klik: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya   untuk mengirim email langsung ke penulis.

 

PEMIKIRAN HANNAH ARENDT MENGENAI KEKERASAN DALAM KEKUASAAN

Yeremias Jena*

Abstract: Hannah Arendt rejects the idea that violence is a justified means of defending democratic power. For her, violence can only be justified as “a last resort” to combat anarchists and dissidents who oppose demo-cratic power. This article shows that exercising democratic rule in a polis supported by the use of violence as a last resort, on the one hand, may lead to a tyranny of the majority, given the fact that the democratic political discourse is determined mostly by those with a certain level of education, economic circumstances, social status, and a wide access to information; and, on the other hand, the use of violence as a last resort could become the ground for the state to repress its people in the name of national security. This article maintains the position that the combination of participatory democracy proposed by Hannah Arendt and the cons-titutional democracy commonly practiced today can overcome the danger of a tyranny of the majority as well as prevent the abuse of power by a democratic ruler.

Abstrak: Menurut Hannah Arendt, kekerasan tidak dapat dibenarkan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan yang demokratis. Kekerasan hanya dapat dibenarkan sebagai “pertahanan terakhir” dalam menghadapi para pengacau dan pembangkang kekuasaan demokratis. Artikel ini menunjukkan bahwa, di satu pihak, kekuasaan demokratis dalam sebuah polis yang didukung oleh praktik kekerasan yang sah sebagai pertahanan terakhir justru berbahaya karena dapat menciptakan tirani mayoritas, mengingat bahwa diskursus politik yang demokratis sebagai watak utamanya kerap kali lebih ditentukan oleh para peserta dari tingkat pendidikan, keadaan ekonomi, status sosial tertentu, dengan akses luas terhadap informasi. Di lain pihak, penggunaan kekerasan sebagai “pertahanan terakhir” dapat menciptakan kesewenang-wenangan negara dalam menindas rakyatnya atas nama keamanan nasional. Artikel ini mempertahankan posisi bahwa gabungan antara demokrasi partisipatoris sebagaimana diusulkan Hannah Arendt dan demokrasi konstitusional yang lazim dipraktikkan dewasa ini dapat menjadi jalan keluar dalam mengatasi bahaya tirani mayoritas sekaligus mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh pemegang kekuasaan yang demokratis.

Klik: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya untuk mengirim email langsung ke penulis.


 

ANALISIS ETIS ATAS KEBENARAN DAN TANGGUNG JAWAB
DALAM DUNIA KOMUNIKASI SOSIAL

William Chang*

Abstract: There is no society without social communication. One of the key roles of social communication is to promote truth and responsibility in a multicultural society. Everybody has his/her right to get true infor-mation from the field of communication. Being responsible for all activities in one’s social communication is a main obligation of a good communi-cator. The main goal of this article is to analyse the real situation of the mass communication in daily life. Those who get involved in the the field of social communication need to know more about the true meaning of truth and reponsibility so that they can respect the values of truth and responsibility in this field.
Keywords: Social communication, truth, responsibility, pluralistic society, secret, common good, mutual respect, justice, peace, the dignity of  the human person.

Abstrak: Tiada masyarakat tanpa komunikasi sosial. Salah satu peran kunci komunikasi sosial adalah memajukan kebenaran dan tanggung jawab dalam sebuah masyarakat majemuk. Setiap pribadi memiliki hak untuk memperoleh informasi yang benar dalam bidang komunikasi sosial. Bertanggung jawab atas semua kegiatan dalam bidang komunikasi sosial adalah sebuah kewajiban utama seorang komunikator yang baik. Situasi komunikasi sosial yang sesungguhnya dalam hidup harian menjadi tujuan utama artikel ini. Mereka yang terlibat dalam bidang komunikasi sosial perlu mengetahui lebih banyak tentang makna sejati dari kebenaran dan tanggung jawab sehingga mereka dapat menghargai nilai-nilai kebenaran dan tanggung jawab dalam bidang ini.

Klik: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya untuk mengirim email langsung ke penulis.


 

INSPIRASI, ABSTRAKSI, DAN HISTORISASI
DOKTRIN TRINITAS

Hartono Budi*

Abstract: It is significant that the doctrine of Trinity, which was long pushed aside to the periphery of systematic theology, has made a comeback in recent years as a central and pivotal Christian doctrine. What is a new way to make sense of the teaching? How is the Trinity good news? How does faith in the Trinity inspire and motivate people to be an empowering community in Asia? The meaning of the affirmation that in the Christian faith God is tripersonal, known as Father, Son and Holy Spirit, is rooted in the devotion to Jesus and a Judeo-Christian experience of salvation. Methodologically speaking, it is opportune to move from a dogmatic and philosophical approach (faith seeking understanding) to the approach of faith seeking connections with God’s salvific plans. Eventually, the teaching on the Trinity will be further developed from a global (pastoral) perspective based on concerns for building a true human (ecclesial) community and for repairing social disintegrations caused by  economic injustice, cultural maginalization and religious intolerance. Thus, the theology of “the Tripersonal God” is worth revisiting.

Abstrak: Doktrin mengenai Trinitas, yang cukup lama dipinggirkan dalam teologi sistematik, telah muncul kembali pada tahun-tahun terakhir ini sebagai ajaran Kristiani yang sangat penting dan sentral. Cara pendekatan baru manakah yang perlu digunakan supaya ajaran ini menjadi lebih masuk akal? Bagaimana ajaran tentang Trinitas dapat menjadi sebuah “kabar gembira?” Bagaimana iman akan Trinitas dapat memberikan inspirasi dan memotivasi orang untuk membangun sebuah komunitas yang memberdayakan di Asia ini? Makna dari afirmasi bahwa Allah adalah Tritunggal yang dikenal sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus, berakar pada devosi kepada Yesus dan pada pengalaman Yudeo-Kristiani tentang keselamatan. Secara metodologis, sangatlah penting untuk beralih dari pendekatan dogmatik dan filosofis (iman mencari pemahaman) ke pendekatan iman mencari keterkaitan dengan rencana keselamatan dari Allah. Dalam artikel ini ajaran tentang Trinitas akan dikembangkan lebih lanjut dari sudut pandang keprihatinan pastoral global demi pembangunan sebuah komunitas yang benar-benar manusiawi, serta menjawab keprihatinan terhadap upaya menjembatani disintegrasi sosial yang disebabkan oleh ketidakadilan ekonomi, marjinalisasi kultural, maupun sikap agamawi yang tidak ramah terhadap kehidupan. Dengan keprihatinan tersebut, upaya meninjau kembali teologi mengenai “Allah Tritunggal” akan sungguh bermanfaat.

Klik: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya untuk mengirim email langsung ke penulis.


REFLEKSI TEOLOGI MODERN
TENTANG YESUS KRISTUS PENYELAMAT

A. Sunarko*

Abstract: If salvation is understood in the paradigm of deification, what usually becomes the focus of attention of the Jesus event is the incarnation. The divine became man so that human nature might become divine. But if salvation, on the other hand, is understood in the paradigm of satisfaction (satisfactio), the suffering and the death of Jesus on the cross becomes the focus of attention. Human beings are saved because Jesus—through his suffering and death on the cross—has become atonement for the sins of human beings. In the aforementioned paradigms, the rich meaning of Jesus’ life and ministry do not have sufficient place. In modern theology the life and ministry of Jesus have a more central place. Only in this way, can Christian theology respond to the quest of modern human beings for the meaning of life, and give inspiration for the efforts of human beings as subjects to realize themselves.

Abstrak:
Bila keselamatan dimengerti dalam paradigma deifikasi (pengilahian), biasanya yang menjadi fokus perhatian dari peristiwa Yesus Kristus adalah natal/inkarnasi. Yang ilahi menjadi manusia sehingga kodrat manusia diilahikan. Bila keselamatan dimengerti dalam paradigma satisfactio/silih, maka terutama sengsara dan wafat Yesus di salib lah yang menjadi pusat perhatian. Manusia diselamatkan, karena Yesus—melalui sengsara dan wafat di salib—telah menjadi silih atas dosa-dosa manusia. Dalam kedua paradigma tersebut kekayaan makna hidup dan karya Yesus Kristus kurang mendapat tempat. Dalam teologi modern hidup dan karya Yesus Kristus hendak diberi tempat yang lebih sentral. Kiranya hanya dengan demikian teologi Kristiani dapat memberi tanggapan atas pencarian manusia modern akan makna kehidupan, dan memberi inspirasi bagi upaya manusia sebagai subjek untuk merealisasikan diri.

Klik: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya untuk mengirim email langsung ke penulis.